Sabtu, 09 Agustus 2014

Menanam Rasa Malu

Btw ini adalah tulisan tentang mencoba mengajarkan adik saya untuk bisa mandiri. beberapa minggu terkahir untuk mengisi waktu libur semesternya saya meminta dia untuk melakukan banyak hal, mulai dari membuat blog, fanspage hingga jualan beberapa barang yang sesuai dengan teman-teman kampusnya. Singkat cerita saya ingin sekali mengarahkan dia belajar berdagang, yupss ini baru permulaan karena kalo bahasanya berwirausaha terlalu tinggi. 


Satu hal yang saya pelajari dari  adik perempuan saya ini tentang berdagang adalah sulitnya mengajari rasa malu. Bukan mengajari cara agar tidak malu berjualan menawarkan barang ke teman-temannya tapi menanamkan bahwa kita harus malu ketika umur kita sudah 20 tahun nanti dan kita masih minta disuapin sama orang tua, kita harus malu membebani orang lain, kita harus malu jika nyari traktiran teman saat mau nonton bioskop, kita harus malu saat gaya gayaan pake gadget baru hasil minta sama ortu. 

Punya cerita lain ? silahkan komen
Selengkapnya...

Minggu, 13 Juli 2014

Atheis Lebih Baik

Konflik dan Bantuan di bagian bumi manapun selalu saja ada yg dibenturkan dengan urusan Agama ataupun golongan. Kita harus jujur bahwa ketika kita ingin membantu sesama di sekitar kita masih ada saja stigma bahwa yg dibantu harus sekeyakinan, seakidah atau segolongan dan sebagainya. Agama dan golongan lagi lagi dijadikan patokan untuk membantu atau tidak.

Lihatlah bagaimana kejadian di Palestina, saat bantuan dibutuhkan secepat mungkin isu antara golongan Syiah Sunni muncul. saat Wasior Papua dan Manado banjir isu agama juga mewarnainya. Entah karena ajaran agama atau karena kedangkalan berpikir sehingga uluran tangan ada embel embel kepercayaan.

Saya merasa hal ini buruk untuk kehidupan, bayangkan saja jika kita butuh bantuan namun tak dianggap karena kita beda keyakinan? tidak cukupkah rasa cinta dan sayang mendorong kita untuk membantu sesama? kenapa mesti ada agama dan golongan dalam memberi bantuan?

Jika karena agama dan keyakinan hati kita menjadi batu, sesugguhnya menjadi atheis lebih baik. Memilih menjadi atheis lebih baik, tak percaya adanya Tuhan dan tak peduli dengan urusan agama dan keyakinan. ketika tangan harus diulurkan semata mata karena rasa kemanusiaan.

Selengkapnya...

Jumat, 11 Juli 2014

Memilih Klien

Ini cerita tentang saya yang memutuskan menolak transaksi dengan salah satu klien. Rezeki kok ditolak sih ? pamali kata orang. Bagi saya penolakan kali ini adalah pelajaran besar bahwa tidak semua hal bisa berjalan mulus, bahwa bisnis tidak melulu bicara angka. Berangkat dari percetakan undangan hingga bertransfomasi menjadi salah satu perusahaan percetakan dan merchandise yang bermitra dengan banyak klien korporat saat ini, bukanlah perkara mudah. Ada banyak tantangan yang harus kami lewati membesarkan Cera termasuk dalam hal menangani klien.


Ceritanya suatu waktu, ada brand nasional yang bekerjasama dengan kami, awal bekerjasama kami melakukan kontrak kerjasama dalam skala kecil. dari satu project ke project lain saya belajar, bahwa ternyata bahkan perusahaan nasional pun belum tentu sepenuhnya profesional, khsusnya dalam hal mematuhi tenggat waktu pembayaran. sampai suatu saat klien ini datang lagi dengan angka project yang sangat fantastis, dengan hormat saya menolak project ini. semua tim mempertanyakan keputusan saya, karena menolak kesempatan besar yg tentunya sangat berpengaruh pada pendapatan tahunan perusahaan.
  


Kenapa saya akhirnya memilih klien yang ingin kami tangani atau tidak ? bukankah setiap klien harus dilayani dengan baik ? iya itu berlaku jika semua klien patuh pada akad atau perjanjian bisnis yang dibuat. Jika dalam pelaksanaan banyak  hal yang dilanggar? tentunya kita bisa belajar bahwa bisnis bukan sekedar angka yang tertera dalam daftar kontrak , tapi pada kepercayaan yang dapat kita pegang. 

Saya tahu tidak sepenuhnya saya benar, bahkan menurut beberapa orang saya melakukan kesalahan besar. Saya hanya bisa berkata bahwa, lebih baik menolak daripada di tengah jalan harus sibuk mengurus masalah yang sebenarnya jauh hari sudah bisa kita prediksi. Saya yakin masih banyak rezeki yang datang dengan cara yang mudah. Jadi kenapa harus mengambil tawaran besar tapi ditengah jalan sudah pasti akan susah ? saya hanya takut masalah akan memperburuk komunikasi, membuat tim frustasi sehingga berakibat pada layanan yang menurun.  Karena beberapa kasus sebelumnya begitulah yang terjadi. Bagi saya,perjanjian adalah tentang kepercayaan jika sudah tak bisa dipegang, maka lebih baik tidak dilanjutkan.








Selengkapnya...